Tulisan Siswa Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah Tentang UN – Unschooling

by Dhito DH

Berikut ini tulisan Naylul Izza, Fina Af’idatussofa, dan Siti Qona’ah Peserta UN SMP dari Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah, Salatiga, mengenai UN.

Bagaimana jika semua rekan di kelasmu tidak ada yang bersedia mengikuti ujian nasional alias UN, sedangkan kamu penasaran untuk ikut? Bagaimana bila untuk menjalani UN belum ada persiapan jauh hari sebelumnya? Dan, bagaimana jugakah jika di sekolahmu tidak pernah diadakan pra-UN atau berbagai persiapan UN?

Itulah kiranya yang kami rasakan ketika menjalani sebuah proses yang memakan waktu panjang untuk mengikuti UN, tidak seperti layaknya teman-teman di sekolah lain yang sebelumnya telah bersiap-siap menghadapi UN. Boro-boro kami sempat siap-siap, keputusan mengikuti UN saja sehari sebelum menghadapi rangkaian ujian menjelang UN, seperti ujian praktik, ujian akhir sekolah, dan kemudian UN. Sementara sekolah kami, SMP Alternatif Qaryah Thayyibah, membebaskan kami untuk menentukan sendiri ikut atau tidak kegiatan UN.

Begitu banyak cerita yang harus kami lalui menjelang UN. Kami harus ke sana kemari untuk mencari buku-buku yang sesuai dengan kurikulum dan berusaha keras mempelajarinya di rumah. Tentu saja dengan sistem kebut-kebutan, tapi tetap dibuat santai sehingga semua pelajaran bisa dicerna. Kami berusaha memahami semua materi yang ada di buku dengan belajar di rumah karena tidak ada les atau persiapan apa pun di sekolah. Dari situ, kami merasa menjadi pelajar yang betul-betul mandiri.

Kami masih merasa menjadi bagian dari SMP Alternatif Qaryah Thayyibah, jadi kami sengaja tidak memutuskan kegiatan belajar yang ada di kelas. Jadi, biarpun kami mengikuti UN, kegiatan di kelas juga harus tetap berlangsung seperti biasa. Teman-teman kami yang lain, yang memilih tidak mengikuti UN, masih getol menyelesaikan segudang proyek.

Selain mencari buku-buku, kami juga sibuk mencari sendiri guru yang berkenan membimbing kami dalam belajar, terutama Matematika dan Bahasa Indonesia. Sampai kami lupa akan adanya UN Bahasa Inggris. Pematangan dalam persiapan UN Bahasa Inggris hanya berlangsung satu jam sebelum mengerjakan soal UN.

Tujuan kami mengikuti UN bukan sekadar untuk memperoleh ijazah, tapi untuk antisipasi. Siapa tahu nantinya hati kami terketuk untuk melanjutkan perjuangan ke sekolah lain. Namun, belum pernah tebersit di benak kami untuk meninggalkan Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah. Karena saat ini sekolah itulah yang kami rasa cocok untuk pengembangan diri kami lebih lanjut.

Selain untuk antisipasi, kami juga ingin merasakan detik-detik menjelang UN. Tapi yang terpenting bagi kami adalah mengetahui seperti apa substansi UN, mengetahui sejauh mana manfaat UN bagi bangsa Indonesia, dan memulai sebuah penelitian.

Pada Senin 22 Mei 2006, kami mulai mengikuti UN. UN tidak kami anggap sebagai beban. Kami tidak lagi memikirkan lulus atau tidak. Untuk urusan lulus atau tidak adalah urusan belakang. Yang kami tekankan saat itu, kami tidak menjadikan hasil UN sebagai tanggungan hidup kami. Yang terpenting bagi kami adalah berproses untuk memberikan yang terbaik, bukan mencari nilai akademis yang meloloskan kami dari standar nilai yang selalu disiasati oleh birokrasi pendidikan.

Seusai UN kami memperoleh nilai yang wajar. Tidak terlalu buruk, juga tidak terlalu baik. Namun, dari proses melalui ujian tersebut, banyak hal yang telah kami rasakan dan kami dapatkan. Kami mulai mengambil hikmah dari semua kejadian yang ada ketika menjalankan proses yang begitu panjang. Mulai dari cerita duka sampai cerita yang membuahkan bahagia.

Banyak pengalaman yang kami dapatkan. Kami mulai belajar untuk menjadi orang yang tidak patah semangat, kami juga banyak belajar dari beberapa siswa yang ada di sana. Mengenai besarnya keprihatinan mereka dalam menjalankan episode kehidupan yang pasang-surut. Dan, masih banyak lagi hikmah yang kami petik dalam berproses.

Selain itu, kami juga melihat kenyataan bahwa kejujuran akan membuahkan hasil yang indah. Sementara pembohongan terhadap diri sendiri, seperti nyontek atau semacamnya, malah membuahkan sesuatu yang sangat tidak memuaskan. Sampai akhirnya kami sadar akan UN yang begitu menyedihkan. Banyak hal yang membuat kami kecewa dengan adanya UN.

Banyak pelajar di Indonesia yang tak bisa meneruskan belajar ke jenjang yang lebih tinggi hanya dikarenakan tidak lulusnya dalam pemecahan soal-soal UN. Soal-soal yang dibuat sepihak tersebut ternyata begitu mampu membuat para pelajar menghalalkan segala cara untuk memperoleh kelulusan. Mencontek seakan melatih siswa untuk mendapatkan sesuatu tanpa berusaha. Kami berharap, jangan sampai perbuatan culas seperti itu menjadi cerminan untuk bangsa Indonesia.

Sebenarnya, UN hanya akan membatasi pelajar dalam mengembangkan keintelektualan dalam suatu bidang tertentu. Selama ini yang dijadikan bahan UN hanyalah Bahasa Indonesia, Matematika, serta Bahasa Inggris. UN juga hanya akan membatasi keinginan yang ada pada diri pelajar. Pelajar menjadi tidak kreatif. Pelajar akan sulit untuk menentukan kebutuhan yang ada pada dirinya.

Mengukur keberuntungan

Banyak juga pelajar yang menjadi tidak bersemangat hanya karena tidak lulus UN. Padahal, UN bukanlah satu-satunya jalan untuk mengukur kemampuan. Sangat tidak manusiawi jika UN-lah yang akan mengakhiri sebuah proses belajar. Mungkin, UN akan terus menjadi momok bagi pelajar. Pelajar merasa butuh untuk belajar hanya karena adanya UN atau tes-tes tertulis yang lain.

Bisa dibilang UN bukanlah untuk mengukur kemampuan pelajar, melainkan untuk mengukur keberuntungan pelajar dalam mencoret lembaran soal. Selain itu, sangat tidak rasional juga ketika proses mengukur kemampuan hanya berlangsung dua jam dengan ketegangan yang tidak bisa dihindari oleh pelajar. Dan, saat itu juga, semua pelajar di seluruh penjuru negeri sedang diuji dengan materi yang sama. Padahal, kemampuan pelajar pasti berbeda-beda.

Banyak pelajar Indonesia yang sebenarnya keberatan terhadap UN. Banyak juga pakar pendidikan di Indonesia yang mendukung penghapusan UN. Lantas, Mengapa UN masih dipertahankan? Ada apa di balik adanya UN?

Untuk mengukur kemampuan siswa tidak perlu menggunakan soal-soal yang sebenarnya tidak cukup untuk menilai seluruh kemampuan yang dimiliki siswa selama tiga tahun.

Bayangkan! Jika ada siswa yang memiliki nilai Bahasa Indonesia 9, Matematika 10, sementara nilai Bahasa Inggrisnya di bawah standar kelulusan, berarti siswa itu tidak lulus bukan? Haruskah ia mengulangi belajar selama setahun lagi dengan materi-materi yang membosankan? Dengan suasana yang menjenuhkan? Bukankan lebih baik ia mempertajam kemampuannya daripada harus mengulang lagi hanya untuk mencari nilai Bahasa Inggris.

Jangan sekalipun kita menganggap bahwa dia yang tidak lulus adalah siswa yang bodoh. Nilai yang ada pada pelajar bukan sebatas nilai pada UN. Perlu kita renungkan sekali lagi, UN telah membuat banyak siswa merasa tertekan, depresi, bahkan banyak yang gila karenanya. Tidakkah kita khawatir jikalau UN malah akan memengaruhi kecemasan psikologis anak?

Betapa sedihnya kami ketika melihat beberapa siswa yang menangis histeris lantaran tidak lulus. Bahkan ada yang sampai terkulai pingsan di pangkuan temannya. Seperti ada rasa tersisih yang menyeruak di hati mereka. Kami mencoba untuk bersikap wajar dan menetralkan kesedihan kami. Benarkah semua itu han sesuatu yang wajar?

Teruntuk birokrasi pendidikan yang budiman, lancangkah jika pelajar menyuarakan isi hatinya tentang pendidikan? Bukan maksud kami untuk mengadili, kami hanya menginginkan keadilan. Kami hanya ingin mencoba untuk menjadi pelajar yang asertif dan tidak pasif.

Kalau memang Depdiknas berkenan, hendaknya ujian akhir sebuah sekolah diganti dengan sesuatu yang lebih rasional, logis, dan riil. Bukan sekadar fiktif belaka yang menjelma dalam tiap untaian soal.

Pandangan kami tentang UN ini merupakan bingkisan untuk birokrasi pendidikan yang semoga bisa menjadikan sebuah pendidikan yang lebih baik dari yang sebelumnya. Harapan kami, ke depan, sekolah maupun lembaga pendidikan di Indonesia memiliki hak untuk menentukan langkah sendiri. Tentunya dengan dukungan dan partisipasi dari pemerintah. Perlu diingat bahwa setiap sekolah memiliki sumber daya yang berbeda. Jadi, untuk ujian kelulusan pun tidak perlu diseragamkan.

Dengan perasaan pesimistis, kami hanya bisa mengajukan usulan, ini kesempatan bagi lembaga-lembaga pendidikan— khususnya SMA dan perguruan tinggi—untuk mencari siswa yang berprestasi. Apabila ijazah masih dibutuhkan oleh sekolah, siswa diberi kesempatan untuk mengikuti UN atau ujian setara untuk tahun depan. Dengan demikian, tidak perlu ada siswa yang harus berhenti belajar hanya karena tidak punya ijazah…

dimuat di Kompas, Senin, 03 Juli 2006

dicopy dari http://thejargon.multiply.com/journal/item/134

About these ads